Jumat, 11 Mei 2012

The Sins Of Thy Beloved


The Sins Of Thy Beloved adalah band yang beraliran gothic-doom metal yang berasal dari Bryne, Norwegia.

Band ini dibentuk pada bulan November 1996 oleh Glenn Morten Nordbø, Arild Christensen dan Stig Johansen. Band ini awalnya bernama "Purgatory" tetapi mereka segera memutuskan untuk mengubah nama band mereka untuk sesuatu yang kurang umum. Tidak lama kemudian Anita Auglend dan Aarrestad Ola bergabung dengan band ini, dan mereka merekam demo pertama mereka “All Alone “pada Januari-Februari 1997.

Anders Thue dan Ingfrid Stensland kemudian bergabung sebelum mereka merekam demo kedua mereka “Silent Pain” pada Januari 1998. Pete Johansen memainkan biola pada demo itu, meskipun ia tidak secara resmi bergabung dengan band sampai rekaman panjang pertama mereka album “lake Of Sorrow” pada tahun 1998.

Mereka melakukan tur di seluruh Eropa, sebelum merekam album kedua mereka” Perpetual Desolation” di tahun 2000. Selama tur berikutnya, Anita Auglend, Anders Thue dan Ingfrid Stensland mulai bosan bepergian dan meninggalkan band pada tahun 2001. Sebuah live performance dirilis pada CD dan VHS pada tahun 2001, tapi itu tidak didistribusikan di seluruh dunia dan dengan demikian sangat sulit didapat.

Band ini sudah tidak aktif sejak keberangkatan dari tiga anggota. Pete Johansen sejak meninggalkan bermain biola pada album Tristania dan Sirenia. Pada tahun 2007 ada rumor yang belum dikonfirmasi bahwa Anita Auglend kembali ke band, tapi band ini tetap vacuum.
Album yang telah dirilis
Lake of Sorrow (1998)
Perpetual Desolation (2000)


Current members
Glenn Morten Nordbø - guitars, vocals (1996–present)
Arild Christensen - guitars, vocals (1996–present)
Ola Aarrestad -bass guitar (1996–present)
Stig Johansen - drums (1996–present)
Anita Auglend - vocals (1996–2001, 2007–present)
Maiken Olaisen - keyboards (2005–present)
Past members
Anders Thue - keyboards, piano (1997–2001)
Ingfrid Stensland - keyboards, piano (1997–2001)
Pete Johansen - violin (1998–2001)

Session & Temporary members
Hege-Marie Aanby - vocals (February 2001)
Mona Wallin - vocals (October 2005)

SEPULTURA



Sepultura adalah band metal Brasil dari Belo Horizonte, yang dibentuk pada tahun 1984. kata sepultura di ambil dari bahasa portugis yang artinya "kuburan". Band ini menitik beratkan pada musik yang beraliran death metal, thrash metal dan groove metal sampai akhir tahun 1980-an, dan pada tahun 1990 mereka mencoba menggabungkan beberapa genre seperti punk, hardcore dan industrial metal.
Sepultura telah merilis 12 album sejauh ini, salah satunya album yang berjudul Kairos yang terbaru (2011). Catatan mereka yang paling sukses pada album Arise (1991), Chaos AD (1993), dan Roots (1996). Album Sepultura telah terjual lebih dari 3 juta copy di Amerika Serikat dan hampir 20 juta copy di seluruh dunia, sepultura jg telah mendapatkan penghargaan emas dan beberapa catatan platinum di seluruh dunia, termasuk di berbagai negara seperti Perancis, Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Siprus dan Negara mereka  sendiri yaitu Brasil.

Dan berikut adalah judul album yang berhasil dirilis:

  • Morbid Visions (1986)
  • Schizophrenia (1987)
  • Beneath the Remains (1989) 
  • Arise (1991)
  • Chaos A.D. (1993)
  • Roots (1996)
  • Against (1998)
  • Nation (2001)
  • Roorback (2003)
  • Dante XXI (2006)
  • A-Lex (2009)
  • Kairos (2011)

Personil dan posisi yang sekarang:

  • Paulo Jr. – bass (1984–present), backing vocals (1985–1987; 2011–present),
  • Andreas Kisser – lead guitar, backing vocals (1987–present),
  • Derrick Green – lead vocals, rhythm guitar (1997–present),
  • Eloy Casagrande – drums, percussion (2011–present)

       Beberapa nama yang pernah menjadi bagian dari seputura:

  • Max Cavalera – lead vocals, rhythm guitar (1985–1997), lead guitar, backing vocals (1984–1985)
  • Igor Cavalera – drums, percussion (1984–2006)
  • Jairo Guedes – lead guitar (1985–1987), rhythm guitar (1984–1985)
  • Wagner Lamounier – lead vocals (1984–1985)
  • Jean Dolabella – drums, percussion (2006–2011)


Kamis, 10 Mei 2012

ujungberung under cover

Idealisme…Konsistensi… dan Kreatifitas…
Ujungberung merupakan salah satu district di timur kota Bandung. Ujungberung memiliki jumlah penduduk yang bisa dikatakan cukup padat dengan jumlah 67.144 jiwa yang menempati area kurang lebih seluas 1.000 Ha. Pegunungan dan pesawahan merupakan pemandangan sehari-hari selain berbagai macam kesenian tradisional sunda seperti kuda renggong dan benjang.

Generasi muda Ujungberung tidak pernah melepaskan diri dari budaya kesenian tradisional seperti Benjang, Angklung dll meskipun yang pada akhirnya sudah berbagai macam budaya kesenian dari luar mulai merangsek ke dalam. Sifat keterbukaan akan pengaruh kesenian menciptakan daya inovasi baru terhadap budaya kesenian yang sudah ada. Musik rock, metal, grindcore, hardcore, rock n’ roll dan apapun itu yang kita sebut Underground berkembang dengan pesat ditengah-tengah budaya kesenian tradisional. Perkembangan musik underground di Ujungberung tidak lepas dari komunitas metal tertua dan terkuat yaitu Ujungberung Rebel. Komunitas inilah yang akan menjadi fokus pembicaraan kita dalam membahas Ujungberung Undercover.
Deep purple, Iron Maiden, Led Zeppelin, Queen, Metallica, Gun n’ Roses merupakan konsumsi utama dan juga merupakan musik-musik yang sering dibawakan pada era 1980-an. Tentunya ForFriend tidak lupa dengan band Rudal Rock yang menjadi ikon pada jamannya. Memasuki era 1990-an musik metal yang dimainkan semakin kencang, Sepultura, Napalm Death, Terrorizer, Morbid Vision dan Schizophrenia merupakan beberapa group band luar negeri yang menginspirasi berdirinya band-band cadas asal Ujungberung seperti Orthodox, Funeral, Necromancy, Burgerkill, Jasad, Monster dan beberapa band lainnya yang mengusung aliran heavy metal, hard rock dan speed metal.
Kultur festifal yang berkembang saat itu ternyata tidak membuat musisi-musisi muda Ujungberung puas. Hadiah dari festival berupa dapur rekaman ternyata menyisakan syarat yang mengekang kebebasan bagi mereka untuk berekspresi. Permintaan sponsor dan produser yang harus disesuaikan dengan pasar dan menyamaratakan semua aliran musik benar-benar memenjarakan kreatifitas mereka sebagai musisi dengan darah rock yang mengalir sangat kuat itu. Kondisi seperti ini memaksa mereka untuk maju dan merangsek ke jalanan.
Saat kita menyebut Ujungberung Rebel maka pasti akan terlintas istilah Homeless Crew. Pada awalnya Homeless crew merupakan kelompok musisi-musisi muda yang aktif mempelajari seluk beluk sound system dan teknis pergelaran sebuah band dengan cara belajar langsung menjadi kru band kawan-kawannya.Nama Homeless Crew sendiri dibuat oleh almarhum Ivan Scumbag (founder, vocalist Burgerkill) dan kawan-kawan ini tanpa disadari berubah menjadi movement anti kemapanan, mereka memegang prinsip seperti seorang bohemian, berada dalam zona nyaman hanya akan membuat mereka terlena dan tidak berkreatifitas. Homeless Crew merupakan bagian terpenting bagi sejarah musik rock di Ujungberung. Mereka ini sangat identik dengan Ujungberung Rebel yang juga nantinya merupakan cikal bakal dari rekan-rekan Ujungberung Rebel.
Kebangkitan band underground yang didominasi dari genre rock/metal Ujungberung dimulai pada akhir tahun 1993. Berdirinya Studio Palapa menjadi awal lahirnya band rock/metal Ujungberung yang hebat dengan didiukung musisi dan kru yang solid. Studio Palapa menfasilitasi untuk para musisi tersebut melakukan rekaman dan tentunya dengan biaya sendiri atau D.I.Y (do it yourself). Proses masuk dapur rekaman hingga pendistribusian mereka lakukan sendiri hanhya dengan bermodalkan militansi dan semangat do it your self. Studio Palapa yang merilis lagu-lagu band rock/metal Ujungberung ini dengan mengusung nama Palapa Record, melalui Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious berhasil mencatatkan diri pada Majalah Hai pada tahun 1995 sebagai bagian dari 10 band independent di Indonesia.
Kreatifitas tak pernah mati kawan-kawan Ujungberung Rebel, mulai merambah pada sektor ekonomi. Dengan mengusung ide ekonomi kreatif setidak-tidaknya terdapat tiga sektor yang menjadi garapan kawan-kawan Ujungberung Rebel, yaitu : fashion, literasi dan rekaman. Kegiatan ekonomi kreatif ini bisa dikatakan membantu perekonomian paling tidak untuk internal Ujungberung Rebel.
Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi kawan-kawan Ujungberung Rebel dari awal hingga sekarang dengan segala pencapaiannya. Untuk membangun sebuah komunitas pasti tentunya perlu sebuah pengorbanan sebagai harga yang harus di bayar, akan tetapi semua itu akan indah pada akhirnya bila kita mau memperjuangkannya. Seperti kawan-kawan Ujungberung Rebel selalu menghembuskan idealisme, konsistensi dan kreatifitas dalam setiap nafasnya. Salute for all dan terus berkaya Ujungberung Rebel…Panceg Dina Galur!!! (words by Putra Harsali, dari berbagai sumber. Ilustrasi: Burgerkill-salah satu icon band asal Ujungberung)