Idealisme…Konsistensi… dan Kreatifitas…
Ujungberung merupakan salah satu district di timur kota Bandung. Ujungberung memiliki jumlah penduduk yang bisa dikatakan cukup padat dengan jumlah 67.144 jiwa yang menempati area kurang lebih seluas 1.000 Ha. Pegunungan dan pesawahan merupakan pemandangan sehari-hari selain berbagai macam kesenian tradisional sunda seperti kuda renggong dan benjang.
Generasi muda Ujungberung tidak pernah melepaskan diri dari budaya kesenian tradisional seperti Benjang, Angklung dll meskipun yang pada akhirnya sudah berbagai macam budaya kesenian dari luar mulai merangsek ke dalam. Sifat keterbukaan akan pengaruh kesenian menciptakan daya inovasi baru terhadap budaya kesenian yang sudah ada. Musik rock, metal, grindcore, hardcore, rock n’ roll dan apapun itu yang kita sebut Underground berkembang dengan pesat ditengah-tengah budaya kesenian tradisional. Perkembangan musik underground di Ujungberung tidak lepas dari komunitas metal tertua dan terkuat yaitu Ujungberung Rebel. Komunitas inilah yang akan menjadi fokus pembicaraan kita dalam membahas Ujungberung Undercover.
Deep purple, Iron Maiden, Led Zeppelin, Queen, Metallica, Gun n’ Roses merupakan konsumsi utama dan juga merupakan musik-musik yang sering dibawakan pada era 1980-an. Tentunya ForFriend tidak lupa dengan band Rudal Rock yang menjadi ikon pada jamannya. Memasuki era 1990-an musik metal yang dimainkan semakin kencang, Sepultura, Napalm Death, Terrorizer, Morbid Vision dan Schizophrenia merupakan beberapa group band luar negeri yang menginspirasi berdirinya band-band cadas asal Ujungberung seperti Orthodox, Funeral, Necromancy, Burgerkill, Jasad, Monster dan beberapa band lainnya yang mengusung aliran heavy metal, hard rock dan speed metal.
Kultur festifal yang berkembang saat itu ternyata tidak membuat musisi-musisi muda Ujungberung puas. Hadiah dari festival berupa dapur rekaman ternyata menyisakan syarat yang mengekang kebebasan bagi mereka untuk berekspresi. Permintaan sponsor dan produser yang harus disesuaikan dengan pasar dan menyamaratakan semua aliran musik benar-benar memenjarakan kreatifitas mereka sebagai musisi dengan darah rock yang mengalir sangat kuat itu. Kondisi seperti ini memaksa mereka untuk maju dan merangsek ke jalanan.
Saat kita menyebut Ujungberung Rebel maka pasti akan terlintas istilah Homeless Crew. Pada awalnya Homeless crew merupakan kelompok musisi-musisi muda yang aktif mempelajari seluk beluk sound system dan teknis pergelaran sebuah band dengan cara belajar langsung menjadi kru band kawan-kawannya.Nama Homeless Crew sendiri dibuat oleh almarhum Ivan Scumbag (founder, vocalist Burgerkill) dan kawan-kawan ini tanpa disadari berubah menjadi movement anti kemapanan, mereka memegang prinsip seperti seorang bohemian, berada dalam zona nyaman hanya akan membuat mereka terlena dan tidak berkreatifitas. Homeless Crew merupakan bagian terpenting bagi sejarah musik rock di Ujungberung. Mereka ini sangat identik dengan Ujungberung Rebel yang juga nantinya merupakan cikal bakal dari rekan-rekan Ujungberung Rebel.
Kebangkitan band underground yang didominasi dari genre rock/metal Ujungberung dimulai pada akhir tahun 1993. Berdirinya Studio Palapa menjadi awal lahirnya band rock/metal Ujungberung yang hebat dengan didiukung musisi dan kru yang solid. Studio Palapa menfasilitasi untuk para musisi tersebut melakukan rekaman dan tentunya dengan biaya sendiri atau D.I.Y (do it yourself). Proses masuk dapur rekaman hingga pendistribusian mereka lakukan sendiri hanhya dengan bermodalkan militansi dan semangat do it your self. Studio Palapa yang merilis lagu-lagu band rock/metal Ujungberung ini dengan mengusung nama Palapa Record, melalui Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious berhasil mencatatkan diri pada Majalah Hai pada tahun 1995 sebagai bagian dari 10 band independent di Indonesia.
Kreatifitas tak pernah mati kawan-kawan Ujungberung Rebel, mulai merambah pada sektor ekonomi. Dengan mengusung ide ekonomi kreatif setidak-tidaknya terdapat tiga sektor yang menjadi garapan kawan-kawan Ujungberung Rebel, yaitu : fashion, literasi dan rekaman. Kegiatan ekonomi kreatif ini bisa dikatakan membantu perekonomian paling tidak untuk internal Ujungberung Rebel.
Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi kawan-kawan Ujungberung Rebel dari awal hingga sekarang dengan segala pencapaiannya. Untuk membangun sebuah komunitas pasti tentunya perlu sebuah pengorbanan sebagai harga yang harus di bayar, akan tetapi semua itu akan indah pada akhirnya bila kita mau memperjuangkannya. Seperti kawan-kawan Ujungberung Rebel selalu menghembuskan idealisme, konsistensi dan kreatifitas dalam setiap nafasnya. Salute for all dan terus berkaya Ujungberung Rebel…Panceg Dina Galur!!! (words by Putra Harsali, dari berbagai sumber. Ilustrasi: Burgerkill-salah satu icon band asal Ujungberung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar